Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Ibadah. Show all posts

Wukuf di Arafah

Monday, November 15, 2010
Wukuf di arafah adalah kegiatan berdiam diri para jamaah di padang arafah. Kegiatan ini  dilakukan sejak tergelincir matahari (siang) sampai terbenam matahari dengan mengenakan pakaian ihram. Momen wukuf ini disarankan untuk merenung, berintrospeksi diri, berzikir, berdoa dan meminta ampunan atas semua dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.

Saat wukuf di arafah menjadi semacam replika dari kondisi ketika di padang mahsyar nanti. Ketika seluruh manusia sejak zaman Nabi Adam sampai akhir zaman dikumpulkan sebelum diputuskan kemana ia akan melangkah, apakah surga atau neraka. Persis ketika sedang melaksanakan wukuf, berpakaian yang sama dan berpanas terik dibawah matahari sambil mengingat-ingat setiap perbuatan baik dan buruk yang pernah dilakukan semasa hidupnya. Wukuf di arafah menjadi barometer kehidupan akhirat kelak.

Padang Arafah

Ayat terakhir dari Al-Quran surat Al-Maidah ayat 3 pun turun ketika Nabi Muhammad melaksanakan wukuf di Arafah. Beliau menyampaikan khutbah dan lalu turunlah ayat tersebut yang kemudian peristiwa haji di tahun itu disebut dengan haji wada' (haji perpisahan).

Begitu banyak kemuliaan dan nilai lebih dari wukuf di arafah, semoga kita (yang berhaji) dapat melaksanakannya dengan baik dan semoga kita (yang belum berhaji) diberikan kesempatan oleh Allah untuk melaksanakan rukun islam yang kelima minimal sekali dalam sisa usia hidup kita.AMIN.

Masjid Al-Aqsa

Friday, October 15, 2010
Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha (bahasa Arab:المسجد الاقصى, Tentang suara ini Al-Masjid Al-Aqsha (bantuan·info), arti harfiah: "masjid terjauh") adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). (wikipedia.org)

Jauh sebelum Islam berkembang menjadi agama besar pada zaman Nabi Muhammad SAW, telah lahir para nabi dan rasul yang mendahuluinya. Pada periode ini pula telah dibangun sebuah masjid pertama kali di dunia. Yaitu Masjidilharam pada zaman Nabi Ibrahim alaihi salam (As). Namun masjid pada masa itu tidak seperti bangunan sekarang yang lengkap dengan menara dan bangunan megah lengkap dengan tiang-tiang besar.


Masjid pada waktu itu hanya berupa tempat lapang dengan batas-batas tertentu yang digunakan untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan “Dari Abu Dzar radhiallahu anhu, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang masjid yang pertama kali dibangun? Maka Rasulullah SAW menjawab:

“Masjid Al Haram”

Kemudian aku bertanya lagi: Kemudian masjid apa lagi?

Rasulullah SAW menjawab:

“Masjid Al Aqsha”

Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: Berapa jarak antara keduanya?

Rasulullah SAW menjawab:

“Empat puluh tahun.” (HR. Bukhori 6/290-291; Muslim No. 520)

Sebagian orang berpendapat bahwa yang membangun Masjid Al Aqsha adalah Nabi Sulaiman bin Dawud. Namun pendapat ini perlu dipertanyakan karena jarak masa hidup antara Nabi Sulaiman dengan Nabi Ibrahim lebih dari 1.000 tahun.

Berdasarkan perhitungan dari hadits di atas, kuat dugaan Nabi Sulaiman bukanlah orang yang mendirikan Masjid Al Aqsha, dia hanya memperbaikinya saja. Sedangkan nabi yang mendirikan Masjid Al Aqsha adalah Nabi Ya’qub bin Ishaq, setelah Nabi Ibrahim mendirikan Kakbah.

Ketua Lembaga Takmir Masjid PBNU Ustadz Mukhlas Syarkun membenarkan Masjid Al Aqsa merupakan salah satu masjid pertama di dunia.

Menurut dia, di tempat ini para nabi-nabi sebelum Muhammad SAW telah menorehkan beragam kisah. Di antaranya adalah tempat di mana Nabi Zakariya bermunajat memohon diberi putra walaupun sudah usia tua. Allah SWT pun kemudian mengabulkan doanya dengan memberi putra bernama Yahya. Masjid Al Aqsa juga merupakan tempat iktikaf (berdiam diri di dalam masjid) Siti Maryam, ibu Nabi Isa As.

Pria asal Lamongan itu menjelaskan, Allah swt telah memberikan keutamaan bagi hambanya yang beribadah di Masjidilharam. Yaitu dilipatgandakan pahalanya hingga 1.000 kali. “Dalam hadits disebutkan barang siapa salat di Masjidilharam, maka pahalanya dilipatgandakan 1.000 kali,” ujarnya.

Dua masjid ini menjadi saksi bisu perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Di mana kemudian Rasulullah SAW bermi’raj menghadap Allah Swt untuk menerima perintah salat.

Masjid Al Aqsha kemudian dijadikan kiblat salat pertama sebelum kemudian dialihkan ke Kakbah di Makkah berdasarkan perintah Allah pada surat Al-Baqarah ayat 144.

“Sesungguhnya Kami lihat muka engkau menengadah-nengadah ke langit, maka Kami palingkan­ lah engkau kepada kiblat yang engkau ingini. Sebab itu palingkanlah muka engkau ke pihak Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu semua berada palingkanlah mukamu ke pihaknya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwa­sanya itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan tidaklah Allah lengah dari apapun yang kamu amalkan.”

Masjid Al-Aqsa atau disebut juga Bait Al-Muqaddas (Al-Quds) terletak di Kota Yerusalem Timur atau dikenal dengan nama wilayah Al-Haram Asy-Syarif bagi umat Islam atau Har Ha-Bayit (Bukit Bait Allah atau Temple Mount/Kuil Bukit) bagi umat Yahudi dan Nasrani. Sementara Masjidilharam terletak di Makkah, Saudi Arabia.

Niat Zakat Fitrah

Wednesday, September 8, 2010
Setelah kita melakukan puasa selama sebulan penuh, kini saatnya kita mengeluarkan zakat fitrah, adapun Niat Zakat Fitrah bisa anda baca dan hafalkan seperti yang tertera di bawah ini. Doa zakat fitrah sangat penting ketika kita membayar zakat fitrah, meskipun hanya satu tahun sekali, namun zakat fitrah sangat penting dan wajib(kecuali jika  tidak mampu). Penulis agak kesulitan mencari lafal doa zakat fitrah di internet/google, Alkhamdulillah akhirnya ketemu juga dari salah satu blog, berikut doanya:

1. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘ANNAFSII FARDHAN LILLAHI TA’AALAA

Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas diri saya sendiri, Fardhu karena Allah Ta’ala

2. Niat zakat Fitrah untuk Istri

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN ZAUJATII FARDHAN LILLAHI TA’AALAA

Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas istri saya, Fardhu karena Allah Ta’ala

3. Niat zakat Fitrah untuk anak laki-laki atau perempuan

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN WALADII… / BINTII… FARDHAN LILLAHI TA’AALAA

Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas anak laki-laki saya (sebut namanya) / anak perempuan saya (sebut namanya), Fardhu karena Allah Ta’ala

4. Niat zakat Fitrah untuk orang yang ia wakili

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘AN (……) FARDHAN LILLAHI TA’AALAA

Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah atas…. (sebut nama orangnya), Fardhu karena Allah Ta’ala

5. Niat zakat Fitrah untuk diri sendiri dan untuk semua orang yang ia tanggung nafkahnya

NAWAITU AN-UKHRIJA ZAKAATAL FITHRI ‘ANNII WA ‘AN JAMII’I MAA YALZAMUNII NAFAQAATUHUM SYAR’AN FARDHAN LILLAHI TA’AALAA

Sengaja saya mengeluarkan zakat atas diri saya dan atas sekalian yang saya dilazimkan (diwajibkan) memberi nafkah pada mereka secara syari’at, fardhu karena Allah Ta’aala

Malam Nuzulul Qur'an - Cara Rasulullah Memperingati Nuzulul Quran

Thursday, August 26, 2010
Malam Nuzulul Qur'an. Ramadhan dan Nuzul Qur'an adalah keterkaitan yang tak terpisahkan. Sejarah diturunkannya Al Qur'an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia dengan jelas ditunjukkan Allah SWT dalam firmannya.
"Bulan Ramadhan, bulan yang di padanya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (Qs. Al Baqarah: 185)

Nah, apakah yang sebaiknya bisa kita lakukan untuk bisa mereguk hari bersejarah nan suci ini? Peringatan terhadap turunnya Al Qur'an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum.

Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, anasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.

Pernahkan anda bertanya: bagaimanakah cara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, sahabatnya dan juga ulama' terdahulu setelah mereka memperingati kejadian ini?

Anda merasa ingin tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam?Simaklah penuturan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu `anhu tentang apa yang beliau lakukan.

"Dahulu Malaikat Jibril senantiasa menjumpai Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pada setiap malam Ramadhan, dan selanjutnya ia membaca Al Qur'an bersamanya." (Riwayat Al Bukhari)
Demikianlah, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bermudarasah, membaca Al Qur'an bersama Malaikat Jibril alaihissalam di luar shalat. Dan ternyata itu belum cukup bagi Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, beliau masih merasa perlu untuk membaca Al Qur'an dalam shalatnya. Anda ingin tahu, seberapa banyak dan seberapa lama beliau membaca Al Qur'an dalam shalatnya?

Simaklah penguturan sahabat Huzaifah radhiallahu `anhu tentang pengalaman beliau shalat tarawih bersama Rasulillah shallallahu `alaihi wa sallam.

"Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku shalat bersama Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam di dalam bilik yang terbuat dari pelepah kurma. Beliau memulai shalatnya dengan membaca takbir, selanjutnya beliau membaca doa:

Selanjutnya beliau mulai membaca surat Al Baqarah, sayapun mengira bahwa beliau akan berhenti pada ayat ke-100, ternyata beliau terus membaca. Sayapun kembali mengira: beliau akan berhenti pada ayat ke-200, ternyata beliau terus membaca hingga akhir Al Baqarah, dan terus menyambungnya dengan surat Ali Imran hingga akhir.

Kemudian beliau menyambungnya lagi dengan surat An Nisa' hingga akhir surat. Setiap kali beliau melewati ayat yang mengandung hal-hal yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdoa memohon perlindungan. .. Sejak usai dari shalat Isya' pada awal malam hingga akhir malam, di saat Bilal memberi tahu beliau bahwa waktu shalat subuh telah tiba beliau hanya shalat empat rakaat." (Riwayat Ahmad, dan Al Hakim)

Demikianlah cara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memperingati turunnya Al Qur'an pada bulan ramadhan, membaca penuh dengan penghayatan akan maknanya. Tidak hanya berhenti pada mudarasah, beliau juga banyak membaca Al Qur'an pada shalat beliau, sampai-sampai pada satu raka'at saja, beliau membaca surat Al Baqarah, Ali Imran dan An Nisa', atau sebanyak 5 juz lebih.

Inilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, dan demikianlah cara beliau memperingati turunnya Al Qur'an. Tidak ada pesta makan-makan, apalagi pentas seni, nyanyi-nyanyi, sandiwara atau tari menari.

Bandingkan apa yang beliau lakukan dengan yang anda lakukan. Sudahkah anda mengetahui betapa besar perbedaannya?

Anda juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh para ulama' terdahulu pada bulan Ramadhan?
Imam As Syafi'i pada setiap bulan ramadhan menghatamkan bacaan Al Qur'an sebanyak enam puluh (60) kali.

Al Aswab An Nakha'i setiap dua malam menghatamkan Al Qur'an.Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Qur'an sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali.

Demikianlah teladan ulama' terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur'an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na'uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta'ala:
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya." (Qs. Az Zumar: 23)
Dan oleh firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia." (Qs. Al Anfaal: 2-4)
Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al Qur'an dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya? (muslim.or.id)

Kisah Nabi Muhammad SAW - Sifat-Sifat Nabi Muhammad SAW

Friday, August 13, 2010
Fizikal Nabi
Telah dikeluarkan oleh Ya'kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra. katanya: Pernah aku menanyai pamanku (dari sebelah ibu) Hind bin Abu Halah, dan aku tahu baginda memang sangat pandai mensifatkan perilaku Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata: Adalah Rasulullah SAW itu seorang yang agung yang senantiasa diagungkan, wajahnya berseri-seri layak bulan di malam purnamanya, tingginya cukup tidak terialu ketara, juga tidak terlalu pendek, dadanya bidang, rambutnya selalu rapi antara lurus dan bergelombang, dan memanjang hingga ke tepi telinganya, lebat, warnanya hitam, dahinya luas, alisnya lentik halus terpisah di antara keduanya, yang bila baginda marah kelihatannya seperti bercantum, hidungnya mancung, kelihatan memancar cahaya ke atasnya, janggutnya lebat, kedua belah matanya hitam, kedua pipinya lembut dan halus, mulutnya tebal, giginya putih bersih dan jarang-jarang, di dadanya tumbuh bulu-bulu yang halus, tengkuknya memanjang, berbentuk sederhana, berbadan besar lagi tegap, rata antara perutnya dan dadanya, luas dadanya, lebar antara kedua bahunya, tulang belakangnya besar, kulitnya bersih, antara dadanya dan pusatnya dipenuhi oleh bulu-bulu yang halus, pada kedua teteknya dan perutnya bersih dari bulu, sedang pada kedua lengannya dan bahunya dan di atas dadanya berbulu pula, lengannya panjang, telapak tangannya lebar, halus tulangnya, jari telapak kedua tangan dan kakinya tebal berisi daging, panjang ujung jarinya, rongga telapak kakinya tidak menyentuh tanah apabila baginda berjalan, dan telapak kakinya lembut serta licin tidak ada lipatan, tinggi seolah-olah air sedang memancar daripadanya, bila diangkat kakinya diangkatnya dengan lembut (tidak seperti jalannya orang menyombongkan diri), melangkah satu-satu dan perlahan-lahan, langkahnya panjang-panjang seperti orang yang melangkah atas jurang, bila menoleh dengan semua badannya, pandangannya sering ke bumi, kelihatan baginda lebih banyak melihat ke arah bumi daripada melihat ke atas langit, jarang baginda memerhatikan sesuatu dengan terlalu lama, selalu berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya, selalu memulakan salam kepada siapa yang ditemuinya.

Kebiasaan Nabi
Kataku pula: Sifatkanlah kepadaku mengenai kebiasaannya!Jawab pamanku: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirshat panjang, tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh mutiara mauti manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat membelanya.

Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa baginda menjadi marah kerana sesuatu urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila baginda melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi marahnya, sehingga baginda dapat membela kerananya. Baginda tidak pernah marah untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila baginda merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan pada ibu jari tangan kirinya, dan bila baginda marah baginda terus berpaling dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila baginda gembira dipejamkan matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila baginda ketawa, baginda ketawa seperti embun yang dingin.

Berkata Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga. Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.

Rumah Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah diizinkan khusus baginya, dan apabila baginda berada di dalam rumahnya dibagikan masanya tiga bagian. Satu bagian khusus untuk Allah ta'ala, satu bagian untuk isteri-isterinya, dan satu bagian lagi untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bagian untuk dirinya itu terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya itu untuk melayani semua orang yang awam maupun yang khusus, tiada seorang pun dibedakan dari yang lain.
Di antara tabiatnya ketika melayani ummat, baginda selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri masing-masing dalam agama. Ada yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka baginda akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum, coba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula: "Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir. Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang penguasa, niscaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari kiamat", tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.
Baginda tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah, namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak faedah, dan mereka keluar dari majelisnya sebagai orang yang ahli dalam hal-ihwal agamanya.

Luaran Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar, dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar, senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk ummatnya. Baginda selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam bicaranya. Baginda senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang baginda mengingatkan orang ramai, tetapi baginda senantiasa menjaga hati mereka agar tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya yang mulia. Baginda selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan dicegahkan.
Baginda senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara, tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat, yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.

Majlis Nabi
Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majelis Nabi SAW dan bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam sesuatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan baginda berzikir kepada Allah SWT baginda tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila baginda sampai kepada sesuatu tempat, di situlah baginda duduk sehingga selesai majelis itu dan baginda menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu masliahat, baginda terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang itu bangun dan kembali.
Baginda tidak pemah menghampakan orang yang meminta daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budipekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Baginda dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan.

Berkata Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya tiga perkara yang berikut. Baginda tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Baginda tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.
Apabila baginda berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila baginda berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Baginda tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan baginda merasa takjub bila mereka merasa takjub. Baginda selalu bersabar bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi baginda tetap menyabarkan mereka dengan berkata: "Jika kamu dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!". Baginda juga tidak mengharapkan pujian daripada siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, baginda tidak menggalakkan untuk berbuat begitu. Baginda tidak pernah memotong bicara sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah baginda berbicara, atau baginda menjauh dari tempat itu.

Diamnya Nabi
Berkata Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada mempertimbangkan empat hal, yaitu: Kerana adab sopan santun, kerana berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran. Tidak ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang lain. Baginda meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat.

(Nukilan Thabarani - Majma'uz-Zawa'id 8:275)

Lailatul Qadar - Malam Seribu Bulan

Thursday, August 12, 2010
Lailatul Qadar. Salah satu keutamaan dan juga yang ditunggu oleh umat Islam di dunia pada bulan suci Ramadhan adalah datangnya Lailatul Qadar yang dikenal dengan malam seribu bulan, seperti yang di cantumakan dalam Al-Quran :
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu.Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Ad-Dukhan 44:3-6)
Lailatul Qadar atau dikenal sebagai malam seribu bulan adalah suatu malam yang mulia karena pada malam itu diturunkannya Al-Quran. Lailatul qadar terjadi pada salah satu malam di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama di malam-malam ganjil.

Penyakit Hati

Sunday, August 1, 2010
Penyakit Hati lebih mengganggu dan lebih berbahaya, lebih parah dan lebih buruk daripada penyakit-penyakit tubuh ditinjau dan berbagai segi dan arah. Yang paling merugikan dan paling besar bahayanya ialah karena penyakit hati mendatangkan mudarat atas seseorang dalam agamanya, yaitu modal kebahagia­ annya di dunia dan di akhirat; dan bermudarat bagi akhiratnya, yaitu tempat kediaman yang baqa, kekal, dan abadi.

[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Sesungguhnya penyakit-penyakit hati dapat diketahui melalui tanda-tandanya secara lahiriah yang mengisyaratkan tentang kehadirannya. Tanda-tanda tersebut banyak sekali, yang paling nyata di antaranya ialah sikap bermalas-malasan dalam mengerjakan berbagai macam ketaatan, merasa berat berbuat kebajikan, sangat terikat pada syahwat hawa nafsu, sangat cenderung pada kelezatan dunia, sangat ingin memperluas kesejahteraan di dalamnya serta lebih lama berdiam di sana, dan lainnya lagi sebagaimana yang dapat disaksikan dalam kebiasaan orang-orang yang lalai akan akhirat dan berpaling dan Allah Swt.

Bilamana timbul tanda-tanda seperti itu pada agama seseorang, yang menunjukkan adanya penyakit dalam hatinya, wajiblah ia berusaha sungguh-sungguh untuk mengobati dan menanganinya dengan saksama. Cara terbaik dan paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut ialah dengan mencari seorang syaikh (guru, pembimbing, mursyid) yang 'Alim dan 'Arif dari kalangan yang bersih dan sadar kalbunya. Jika tidak berhasil memperolehnya, hendaknya ia memilih seorang kawan yang saleh yang dapat dimintai pendapatnya dan diajak bermusyawarah dalam menyelidiki dan mengenali penyakit-penyakit hati serta mengobatinya. Tetapi, kalau orang seperti ini pun tidak dapat dijumpainya seperti lazimnya pada zaman ini yang jarang sekali ditemukan orang yang bersedia menolong dalam kebenaran dan kebaikan, hendaknya ia membaca buku-buku yang ditulis oleh para imam dan tokoh besar dalam bidang ini, yang sengaja mereka susun tentang penyakit-penyakit hati dan cara-cara penanganan dan pengobatannya.

Di antara buku-buku yang paling lengkap dan paling bermanfaat mengenai hal itu ialah Kitab Ihya' Ullumuddin karya Imam Al Ghazali, terutama perempat bagiannya tentang Al-Muhlikat (sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan pembinasa hidup manusia). Sebab, buku itu memang sengaja ditulis untukmengenali penyakit-penyakit hati serta cara-cara pengobatannya, tanda-tanda yang menunjukkan adanya, kuat ataupun lemahnya, dan sebagainya. Namun, buku-buku apa pun tidak mungkin dapat disejajarkan dengan kedudukan seorang syaikh yang 'Arif atau kawan karib yang saleh dalam perjalanan mencapai tujuan. Itu hanyalah sejauh upaya orang yang tidak berhasil menjumpai mereka atau tidak dimungkinkan oleh keadaan.

Sungguh Allah Swt. akan memberikan pertolongan-Nya sesuai dengan kadar himmah, ketulusan, serta kebersihan niat seseorang. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Bahaya Penyakit Hati Dibandingkan Penyakit Tubuh

Penyakit-penyakit hati lebih mengganggu dan lebih berbahaya, lebih parah dan lebih buruk daripada penyakit-penyakit tubuh ditinjau dan berbagai segi dan arah. Yang paling merugikan dan paling besar bahayanya ialah karena penyakit hati mendatangkan mudarat atas seseorang dalam agamanya, yaitu modal kebahagia­ annya di dunia dan di akhirat; dan bermudarat bagi akhiratnya, yaitu tempat kediaman yang baqa, kekal, dan abadi.

Adapun penyakit tubuh tidaklah mendatangkan mudarat atas seseorang kecuali di dunianya yang fana yang segera sima, serta tubuhnya yang menjadi sasaran penyakit akan hancur luluh dalam waktu yang cepat. Apalagi penyakit tubuh itu sebenarnya amat berfaedah bagi seseorang dalam agama dan akhiratnya. Sebab, Allah Swt. menyediakan pahala yang sangat besar bagi si penderita sakit, di samping banyak faedah dan manfaat lainnya yang segera ataupun pada waktu mendatang, sesuai dengan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadis tentang pahala yang disediakan pada penyakit dan bencana yang menimpa tubuh.

Kemudian, karena penyakit hati tidak terjangkau secara indriawi dan tidak menimbulkan rasa sakit, sulitlah ia diketahui dan ditemukan. Perhatian padanya amat sedikit dan daya upaya untuk mengobatinya pun lemah sekali, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali.rhm, "Penyakit hati itu laksana penyakit sopak (belang) di wajah seseorang yang tak memiliki cermin. Jika ia diberi tahu orang lain pun, mungkin ia tak memercayainya. "

Selain itu, berbagai azab dan hukuman yang diancamkan atas diri seseorang sebagai akibat penyakit-penyakit hati, kelak di akhirat, adalah sesuatu yang sulit diterima oleh kaum yang lalai. Atau, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang masih lama sekali datangnya. Adakalanya mereka bahkan meragukannya. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya.) Atau, berangan-angan akan diselamatkan darinya dengan berbagai harapan yang menipu, semata-mata karena terlalu "berani" kepada Allah. Sehingga, timbul khayalan kosong dengan mengira pasti akan memperoleh ampunan dan keselamatan meski tanpa berusaha untuk mem­perolehnya.

Disebabkan hal-hal seperti itu, banyak penyakit hati yang terus tersembunyi, bahkan makin kuat mencengkeram, sementara orang-orang yang lalai selalu teledor untuk mengobatinya se­hingga makin lama makin sulit diobati. Bahkan, adakalanya se­seorang dari mereka mengetahui bersemayamnya sesuatu penyakit di hatinya, tetapi ia tak peduli dan tak menghiraukannya.

Padahal, sekiranya ia mengetahui adanya suatu penyakit di tubuhnya ataupun seorang lain memberi tahunya tentang hal itu, pasti besar sekali perhatian yang ditujukan padanya. Ia akan menjadi sangat takut, lalu bersungguh-sungguh berdaya upaya untuk mengobatinya dengan mengerahkan apa Baja yang &pat dilakukannya. Sebab, seperti yang telah kami sebutkan, penyakit hati itu tak terjangkau secara indriawi dan tidak ada rasa sakit yang menyertainya segera. Juga, hukuman-hukuman yang diancamkan terhadap itu tak tampak, dan kalaupun ada, ia baru akan terwujud kelak setelah mati dan berada di akhirat. Sedang­kan, orang yang lalai menganggap maut dan segala yang datang sesudahnya sebagai sesuatu yang amat jauh. Padahal, sekiranya menggunakan akalnya dan keyakinannya, niscaya ia akan mengetahui bahwa maut adalah suatu perkara gaib yang paling cepat datangnya, seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw. Dan, sebagaimana juga beliau pemah bersabda, "Surga itu lebih dekat kepada seorang
di antara kalian daripada tali sandalnya." Demikian pula neraka.

Penyakit hati sungguh banyak ragamnya. Yang paling ber­bahaya dan paling mudarat ialah kebimbangan dalam agama. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya.) Selain itu, lemahnya keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, serta kediaman di akhirat. Juga, sifat riya' (ingin dipuji oleh manusia) dalam per­buatan kebajikan. Angkuh terhadap hamba-hamba Allah, bakhil, iri hati, dengki, curang, cinta akan dunia dan sangat ingin mem­pertahankan nya, panjang angan-angan (yang menyebabkan selalu menunda tobat), lupa akan maut, lalai akan akhirat, mengabaikan persiapan untuknya, serta berbagai macam penyakit hati lainnya.

Mengingat bahwa hati manusia tertutup dari perasaan indriawi, sedangkan penyakit-penyakit hati tidak disertai rasa sakit yang dapat dijangkau dengan alat-alat lahiriah, wajiblah atas manusia berakal, yang prihatin akan agamanya serta keselamatan akhiratnya, untuk sungguh-sungguh berusaha menyelidikinya sehingga ia dapat segera menangani dan mengobatinya sebelum maut datang mendadak dan ia pun menuju Tuhannya, laluberhadapan dengan-Nya dengan hati yang tidak sehat—yang karena itu ia akan merugi, binasa bersama dengan orang-orang yang binasa lainnya.

Do'a Menyambut Ramadhan

Thursday, July 29, 2010
Do'a Menyambut Ramadhan, bagi anda yang mau menjalankan puasa ramadhan 1431 H, dibawah ini adalah Do'a Menyambut Ramadhan :

"Allahumma bariklana fii rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan"

Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab, Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan (HR. Ahmad dan Thabrani)

Ayo kita sambut bulan suci Ramadhan 1431 H

Menyambut Bulan Ramadhan 1431 H

Monday, July 26, 2010
Bulan Ramadhan 1431 H sebentar lagi akan tiba, bagi anda yang menunaikan ibadah bulan ramadhan ini tentunya sangat ditunggu tunggu, begitu juga dengan saya mudah mudahan pada bulan penuh rahmat ini kita diberikan kekuatan lahir dan bathin untuk menjalankannya, amin ya robal alamin. Sebelumnya apabilan anda lagi mencari jadwal puasa Ramadhan 1431 anda bisa menuju link ini Jadwal Puasa 2010 - Download Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H. dibawah ini merupakan artikel untuk menyambut bulan ramadhan yang saya ambil dari site agama.kompasiana.com dan ditulis oleh Abdul Adzim (Sedang Menambah Ilmu dan Pengetahuan di UIN Maliki Malang, program S3). dengan judul asli Menyambut Bulan Sakral ” RAMADHAN”. semoga bermanfaat.

Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, yaitu diciptaknnya hari, bulan dan tahun. Aktifitas manusia sehari-hari, seperti makan, minum, belajar, tidur, tidak terlepas oleh waktu (hari, bulan dan tahun), serta tempat. Sebagai seorang muslim, manusia juga melakukan aktifitas interaktif dengan tuhan-Nya, seperti Sholat, berbuasa, zakat, serta haji ke rumah Allah di Makkah. Jika diperhatikan, manusia hidup itu memiliki tiga waktu (1) sedang dilakukan (sekarang), (2) telah dilakukan (lampau), (3) dan akan dilakukan (masa depan).

Di antara hari yang sangat mulya di antara hari-hari yang ada ialah hari jum’at, yang dikenal dengan (Sayyidul Ayyam). Artinya, hari jum’at memang sangat istimewa di sisi-Nya, karena banyaknya kebaikan (berkah) yang ada di dalamnya. Ada waktu (saat) tertentu yang tidak ada sebuah permintaan (do’a), kecuali akan dikabulkan oleh Allah SWT (al-Qurtubi 8:18). Konon, yang dimaksud (saat) tertentu yaitu antara dua (Adzan dan Iqomah) dan antara dua khutbah. Imam Muslim, juga menyebutkan hadis Nabi S.a.w tengtang keistimewaan hari jum’at yang isinya:’’sebaik-baik hari, saat matahari sedang terbit yaitu hari jum’at, pada hari itu Adam as di maksukkan surga, dan pada hari itu juga dikeluarkan dari surga.[1]Dalam redaksi lainya, Adam diciptakan pada hari jum’at, dan kiamat itu juga akan jatuh pada hari jum’at.

Jika Allah SWT mengistimewakan hari tepat pada hari jum’at. Di antara dua belas bulan yang tercantum di dalam al-Qur’an, Romadhan adalah bulan special, Nabi S.a.w juga mengistimewakan. Al-Qur’an sebagai pedoman diturunkan secara serentak pada bulan romadhan, tepatnya pada malam lailatul mubarokah, atau yang lebih populer disebut dengan ‘’lailatul qodar’’. Di sisi lain, banyak keistimewaan yang dimiliki bulan ini, Nabi menyebutnya dengan’’ Sahru Ummat’’ bulan pengikutku. Tidak ada umat islam yang hidup di muka bumi, kecuali sangt bersuka ria ketika menyambut bulan suci romadhan yang penuh berkah dan ampunan.

Makna Bulan Romadhan.

Romdhan berasal dari bahasa Arab (ر م ض ن) yang berarti sangat panas atau kering kerontang, khususnya di tanah Arab yang memang kondisinya sangat panas dan kering. Asal kalimat Romadhan adalah ( رم ض ), kemudian ditambah hurf Alif dan Nun (الألف والنون ) yang berarti (sangat) panas. Memang, bangsa Arab waktu itu penghitungan hari mengikuti Babylonia. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh segatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Masih terkait dengan epistimologi Ramdhan, setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadhan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tak lagi berdosa.

Keutamaan Bulan Romdahan.

Sebagaimana hari jum’at, bulan Romadhan disebut juga dengan Sayyidul Suhur (sebaik-baik) bulan. Karena semua amal perbuatan positif yang dilakukan pada bulan ini mendapatkan imbalan yang luar biasa, kebaikannya berlipat ganda. Banyaknya kebaikan yang dilimpahkan Allah SWT kepada manusia, menjadikan bulan ini lebih baik, dari pada bulan lainya. Agar supaya aktifitas ibadah yang dilaksanakan tidak terganggu oleh syetan dan sekutunya, Nabi S.a.w menuturkan:’’ ketika memasuki bulan suci Romdhan, pintu surga dibuka luas-luas, dan pintu neraka ditutup rapat-rapat, syetan-pun dibelenggu’’.

Allah juga memberikan peluang sebesar-besarnya kepada orang yang sedang melakukan puasa Romadhan untuk meraih keuntungan dunia dan akhirat. Sangat wajar, jika tuhan menyediakan sebuah pintu (al-Royyan), yang khusus untuk mereka yang melakukan puasa Romadhan. Besarnya pahala ibadah di bulan suci romadhan, membuat orang islam dibelahan dunia berlomba-lomba berbuat baik, seperti member makan orang berpuasa (iftor), tarawih, membaca al-Qur’an, serta beragam aktifitas positif lainnya.

Secara khusus, Nabi S.a.w menganjurkan kepada para pengikutnya agar supaya menghidupkan malam Romdahan dengan melakukan Qiyamu Ramdhan dan membaca al-Qur’an. Allah SWT menurunkan al-Qur’an secara serentak tepat pada bulan Romdahan, yaitu pada malam Lailatul Qodar. Sedangkan pada tanggal 17 Romdahan di peringati Nuzulul Qur’an (turunya al-Qur’an) disesuaikan dengan kebutuhan dan kejadian penting Nabi S.a.w Surat yang pertama kali turun (al-Alaq 1-5), tepatnya pada malam ke-17 Romhadhan, yang kemudian diperingati dengan Nuzulul Qur’an.

Di dalam al-Qur’an Allah mempertegas, bahwa al-Qur’an itu memang turun pada bulan Romdahan yang artinya:’’Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”[3]. Jadi, membaca al-Qur’an pada bulan Romadhan sama dengan memperingati turunnya. Nabi S.a.w sendiri setiap bulan Romadhan didatangi oleh Malaikat Jibril untuk bermutoalah bersama, kecuali menjelang wafatnya.

Yang membedakan bulan Romadhan dengan bulan lainnya yaitu kewajiban melakukan berpuasa. Memang tidak dipungkiri, hampir setiap bulan Nabi S.a.w tidak pernah meninggalkan puasa sunnah, akan tetapi tidak ada puasa yang dilakukan sebulan penuh, kecuali puasa bulan Romadhan. Konon, puasa Romadhan ditetapkan pada tahun kedua hijriyah,[4] dan hukumnya wajib bagi setiap orang muslim, baligh, berakal, serta mampu (kuat) untuk melakukan puasa.[5] Pahala ibadah puasa khusus, Allah sendiri yang akan membalasnya, sebagimana keterangan hadis Nabi yang berbunyi’’ semua amal ibadah anak Adam untuknya, kecuali puasa hanya untukku, dan aku sendiri yang akan membalasnya’’.

Kewajiban ini berdasarkan nash (teks) al-Qur’an yang artinya:’’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa’’.[6]Keterangan ayat ini yang menjadi dalil sorih, atas kewajiban puasa bulan Romadhan. Selama di Madinah, Nabi hanya melakukan puasa wajib bulan Romadhan hanya sembilan kali, karena pada usia 63, beliau wafat.

Karena bulan ini sangat istimewa, beliau S.a.w senantiasa deres (membaca al-Qur’an) di dalam masjid. Sebagian ulama’, menghatamkan al-Qur’an setiap tiga hari sekali, sebagian lagi seminggu sekali, sebagian lagi sebulan. Do’a (permintaan) setelah hatam membaca al-Qur’an dikategorikan do’a mustajab (diterima). Di dalam sebuah hadis, Imam al-Nawawi menuturkan:’’Sungguh sangat dianjurkan berdo’a setelah merampungkan membaca al-Qur’an, dikatakan’’ barang siapa membaca al-Qur’an, kemudian berdo’a, ada tujuhpuluh para malaikat mengamini do’a itu’’.[7] Kegiatan Nabi pada usia senja banyak dihabiskan untuk beri’tikaf di dalam masjid Nabawi. Beliau tidak pulang ke rumah, walaupun jarak kediaman beliau sekitar 10 M, kecuali ketika waktu membuang hajat. Dan menjadi tuntunan bagi setiap umatnya untuk ikut serta I’tikaf di dalam masjid, walaupun tidak di Makkah (masjidil haram) atau masjid nabawi (Madinah).

Al-Qur’an dan puasa seolah-olah tidak dapat dipisahkan. Kelak, al-Qur’an itu berubah menjadi sosok menarik yang menawarkan pertolongan kepada setiap orang yang senantiasa membacanya.

[1] . H.R Muslim, 2013

[3] . Q.S Al Baqarah (1:185)

[4] . Al-Zuhaili, Muhammad, Dr, 1993. Al-Islam fi al-Madi wa al-Hadir ( Darul Qolam-Beirut, hal 65)

[5] . Al-Bagho, Mustofa Dr, 1992. Al-Tadhib Fi Adillati Matan al-Ghoyah wa al-Taqrib. Dar Ibn Katsir- Beirut, hal 102.

[6] . Q.S al-Baqarah (1;183)

[7] . 90 Quds, Muhammad Ali, Syeh, 1334. Kanju al-Najah wa al-Surur fi Adiyati allati Tasrohu al-Sudur. hal, 90.

oleh : Abdul Adzim

Biaya Haji 2010 - Biaya Naik Haji 2010

Thursday, July 22, 2010
Biaya Haji. Informasi tentang Biaya Naik Haji pada tahun 2010, diambil dari sitenya Kompas, bagi anda yang akan menunaikan Ibadah Haji untuk tahun 2010, inilah berita Biaya Naik Haji tersebut.

Setelah melakukan pertemuan sebanyak 23 kali, Komisi VIII DPR RI dan pemerintah, Rabu (21/7/2010), akhirnya sepakat menetapkan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) 2010 adalah rata-rata 3.342 dollar AS, atau turun 80 dollar AS dari tahun 2009 sebesar 3.442 dollar AS.


BPIH ini terdiri dari biaya penerbangan ke Arab Saudi yang rata-rata mencapai 1.720 dollar AS, biaya pelayanan umum untuk Kerajaan Arab Saudi sebesar 277 dollar AS, biaya pemondokan di Mekkah sebesar 2.850 riyal Saudi, biaya pemondokan di Madinah 600 riyal Saudi, dan biaya hidup sebesar 405 dollar AS.

"Puji syukur ke hadirat Allah. Terima kasih kepada pimpinan dan anggota Komisi VIII, baik dalam konteks panja maupun Komisi VIII. Saya memahami pembahasan diskusi ini melelahkan. Namun, ini untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji," ujar Menteri Agama Suryadharma Alie setelah BPIH ditetapkan.

Dikatakan Suryadharma, penurunan sebesar 80 dollar AS disebabkan adanya biaya-biaya yang dibebankan pada dana optimalisasi setoran awal BPIH. Komponen tersebut adalah sewa hotel transit Jeddah, biaya selisih distribusi pemondokan di Mekkah, sewa rumah cadangan, konsumsi masa kedatangan dan kepulangan di bandara, konsumsi selama di Armina, pelayanan bongkar muat barang, dan safeguarding. (kompas.com)

Jadwal Puasa 2010 - Download Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H

Tuesday, July 20, 2010
Jadwal Puasa untuk tahun 2010 dibawah ini format PDF dan anda bisa Download Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H, Jadwal Puasa ini hanya untuk kota kota besar di indonesia, seperti jadwal puasa untuk daerah Jakarta, Surabaya, Bandung, Batam, Jambi dan kota besar lainnya. Jika anda ingin memiliki Jadwal Puasa 2010 tersebut silakan klik saja nama kotanya saja maka anda akan menuju situs download Jadwal Puasa dan gratis tentunya . Setalah menjalankan puasa ingin kirim kirim sms anda bisa membacanya di artikel sebelumnya silakan klik link ini Koleksi Lengkap SMS Ucapan Idul Fitri 1431 H SMS Lebaran 2010. Semoga Bermanfaat.


Jadwal Puasa 2010 - Jadwal Puasa Ramadhan 1431 H

- Jadwal Puasa 2010 Malang
- Jadwal Puasa 2010 Bandung
- Jadwal Puasa 2010 Cirebon
- Jadwal Puasa 2010 Yogyakarta
- Jadwal Puasa 2010 Purwakarta
- Jadwal Puasa 2010 Surabaya
- Jadwal Puasa 2010 Pontianak
- Jadwal Puasa 2010 Samarinda
- Jadwal Puasa 2010 Surakarta
- Jadwal Puasa 2010 Semarang
- Jadwal Puasa 2010 Jakarta
- Jadwal Puasa 2010 Jambi
- Jadwal Puasa 2010 Medan
- Jadwal Puasa 2010 Batam
- Jadwal Puasa 2010 Palu
- Jadwal Puasa 2010 palembang
- Jadwal Puasa 2010 Bandar Lampung
- Jadwal Puasa 2010 Ujung Pandang

Mencocokan Arah Kiblat | Yaum Rashdil Qiblah

Thursday, July 15, 2010
Arah Kiblat. Dalam ilmu falak (astronomi), hari ini dikenal dengan yaum rashdil qiblah (hari untuk mencocokkan arah kiblat), karena matahari tepat berada di atas Kakbah. Umat Islam di seluruh Indonesia diimbau untuk menera mengukur ulang arah kiblat, Jumat (16/7) hari ini, pukul 17.27 wita.

Berdasarkan data hisab Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, dan Nadhlatul Ulama (NU), yaum rashdil qiblah terjadi hari ini. MUI mengimbau kepada umat Islam dan para pengurus masjid di seluruh Indonesia untuk mencocokkan keakuratan arah ibadah salat.


"Daerah mana pun yang mampu menerima sinar matahari pada jam itu (pukul 17.27 wita), kita bisa menera arah kiblat. Arah lawan bayangan itulah arah kiblat berada, karena jam itu posisi matahari tepat berada di atas Kakbah," kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam di Jakarta, Kamis (15/7).

Posisi matahari pada jam itu atau pukul 12.27 waktu Arab Saudi, tepat berada di atas Kakbah berlaku di seluruh dunia. Jika pada bagian Indonesia tengah dan timur pada waktu itu masih bisa menerima sinar matahari, maka masjid-masjid di daerah itu bisa melakukan tera ulang dengan toleransi kurang lebih lima menit.

"Tepatnya 16 Juli dengan waktu toleransi H-2 sampai H+2 juga masih akurat. Toleransi waktu plus minus lima menit masih akurat," imbuhnya.

"Secara otomatis konsekuensi tentang kiblat kita minta kepada masyarakat Muslim pengurus masjid menera ulang melalukan ijtihad sederhana menentukan arah kiblat," katanya.

Data terjadinya rashdil qiblat ini, juga diaminkan oleh Lajnah Falakiyah Pengurus Besar (PB) NU. Peristiwa ini akan membantu umat Islam dalam meluruskan arah kiblat dengan cara yang sederhana karena pada momen itu matahari benar-benar berada di atas Kakbah sehingga segala sesuatu yang berdiri tegak bayangannya menuju kiblat. Karenanya, PBNU juga mengimbau umat Islam agar meluruskan arah kiblatnya.

"Harap kaum muslimin dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk mengukur arah kiblat di rumah masing-masing, musala, dan masjid setempat," kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH Ghazalie Masroeri, di Jakarta, kemarin.

Ghazali menambahkan, jika dalam pengukuran ditemukan ada musala dan masjid yang belum lurus arah kiblatnya, tidak perlu memunculkan opsi membongkarnya. "Perlu kami sampaikan berulang kali, apabila belum lurus, jangan dibongkar bangunannya tapi diluruskan safnya saja," katanya.

Pada momen rashdil qiblah ini, Lajnah Falakiyah PBNU juga mengimbau jajaran lajnah falakiyah di seluruh indonesia untuk mempelopori Gerakan Peduli Rashdil Qiblah (GPRQ) kedua untuk melanjutkn sukses GPRQ pertama 28 Mei lalu.

Perbedaan waktu rashdil qiblah antara Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia tidak terlampau jauh, berbeda dengan waktu salat. "Paling-paling berbeda 1 sampai 2 menit saja. Silakan dilihat di kalender setempat atau menghubungi ahli falak setempat," kata Ghazali.

Mengingat waktu rashdil qiblah ini sangat singkat, sekitar 1 menit saja, Lajnah Falakiyah mengimbau pihak-pihak yang ingin mengoreksi arah kiblat untuk mempersiapkan lebih awal, misalnya dengan memasang benda tegak lurus disamping masjid yang memungkinkan terkena sinar matahari pada waktu terjadinya rashdil qiblah atau lihat grafis di halaman 1. (tribun.com)

Fadhilah Istighfar

Tuesday, May 25, 2010
Fadhilah Istighfar. Pernah suatu ketika Imam Hasan al-Basri didatangi oleh tamu. Tamu pertama, menyampaikan perihal kekeringan, Tamu kedua, perihal hutang, tamu ketiga, perihal keturunan. Imam Hasan al-Basri menjawab semua keluhan ketiga tamunya dengan membacakan satu ayat di dalam al-Quran.

'Mohon ampunlah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebatnya, melimpahkan harta dan anaka-anak bagimu, serta mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu. (QS. an-Nuh: 10-12).

Paling tidak ada empat fadhilah Istighfar yang terkandung di dalam tiga ayat di dalam surat Nuh. Mari kita kita perhatikan fadhilah istighfar berikut dibawah ini.

Pertama, orang yang memiliki kebiasaan beristighfar tidak akan mengalami kekeringan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu melimpahkan air hujan tanpa harus menjadi banjir atau mencana bagi orang tersebut.

Kedua, orang yang memiliki kebiasaan istighfar, Allah akan senantiasa mengucurkan rizki dan menghindarkan diri kita dari lilitan hutang sehingga harta yang kita miliki menjadi membawa berkah bagi diri kita dan keluarga kita maupun untuk orang-orang sekeliling kita.

Ketiga, orang yang memiliki kebiasaan istighfar, Allah akan memberikan momongan atau anak-anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya sehingga di dalam keluarga memiliki ketenteraman dan kebahagiaan selalu.

Keempat, orang yang memiliki kebiasaan istighfar, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan kita tempat usaha yang diberkahi dengan digambarkan dengan memberikan kebun dan sungai-sungai dengan pemandangan yang indah.

Dari keempat fadhilah istighfar diatas bahwa beristighfar adalah kemampuan kita untuk melakukan instropeksi diri atau yang disebut dengan 'Muhasabah' maka kita mengetahui penyebab akar masalah sekaligus kita menemukan solusi dari masalah itu sendiri. Itulah makna fadhillah istighfar.

Mampukah Kita Menangis Malam ini?

Mampukah Kita Menangis Malam ini?. Duhai malam perlahan semakin kelam, Ketika manusia tidur, air mataku bercucuran, jiwaku dirundung kesedihan dan penderitaan. Hilanglah kebahagiaan dalam kegelapan Air mataku bercucuran, teringat beban dosa-dosaku yang telah mengabaikan rahmatMu..

Itulah yang diucapkan oleh Ali Bin Abi Thalib dalam kitab 'Arwa al Asrar', Ali Bin Abi Thalib senantiasa menunaikan sholat malamnya bersama para sahabatnya di Kufah. Saat itu beliau sebagai Amirul Mukminin, tatkala selesai sholat beliau duduk meneteskan air mata, penuh isak tangis dan wajahnya diselimuti dengan kesedihan, Orang-orang yang berada disekitarnya tidak beranjak sedikitpun sampai tiba waktu sholat subuh hingga terbit matahari.

Selesai sholat, Ali menggelengkan kepala, dengan berderai air mata dan penuh kesedihan sambil mengucap, 'Demi Allah, aku telah melihat Rasulullah, apa yang aku lihat hari ini adalah sama halnya yang dilakukan oleh Rasulullah, disetiap sholat malam dimatanya basah dengan linangan air mata dan terdapat bekas-bekas tanda sujud kepada Allah sepanjang malam, Rasulullah senantiasa membaca al-Quran, apabila mengingat Allah sampai condong tubuhnya seperti meliuknya pohon dihembus angin. Rasulullah juga bercucuran air mata sehingga membasahi pakaiannya.

Itulah tangisan orang yang sholeh berharap rahmat Allah bahkan dahsyatnya tangisan itu mampu membuat tubuhnya tersungkur karena takut akan kehilangan rahmat Allah pada dirinya. Begitulah hamba-hamba Allah yang mampu meneteskan air mata penuh harap atas rahmatNya. AIr mata itu tidak akan menetes bila hati kita mengeras.

Mampukah kita menangis malam ini?
source:http://agussyafii.blogspot.com

Menghormati Orang Tua

Menghormati Orang Tua. Al-Qur'an secara tegas mewajibkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tuanya (Q/17:23). Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan alkhoir, yakni nilai kebaikan yang secara universal diwajibkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Artinya nilai kebaikan berbakti kepada orang tua itu berlaku sepanjang zaman dan pada seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi bagaimana caranya berbakti sudah termasuk kategori al ma'ruf, yakni nilai kebaikan yang secara sosial diakui oleh masyarakat pada suatu zaman dan suatu lingkungan.

Dalam hal ini al Qur 'anpun memberi batasan, misalnya seperti yang disebutkan dalam surat al Isra, bahwa seorang anak tidak boleh berkata kasar apalagi menghardik kepada kedua orang tuanya(Q/17:23). Seorang anak juga harus menunjukkan sikap berterima kasihnya kepada kedua orang tua yang menjadi sebab kehadirannya di muka bumi. Di mata Allah sikap terima kasih anak kepada orang tuanya dipandang sangat penting, sampai perintah itu disampaikan senafas dengan perintah bersyukur kepadaNya (anisykur li wa liwa lidaika (Q/31:14)). Meski demikian, kepatuhan seorang anak kepada orang tua dibatasi dengan kepatuhannya kepada Allah.

Jika orang tua menyuruh anaknya melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah, maka sang anak dilarang mematuhi perintah orang tua tersebut, seraya tetap harus menghormatinya secara patut (ma'ruf) sebagai orang tua (Q/ 31:15). Seorang anak, oleh Nabi juga dilarang berperkara secara terbuka dengan orang tuanya di forum pengadilan, karena hubungan anak —orang tua bukan semata-mata hubungan hukum yang mengandung dimensi kontrak sosial melainkan hubungan darah yang bernilai sakral.

Sementara itu orang tua harus adil dalam memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Diantara kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah; memberi nama yang baik, menafkahi, mendidik mereka dengan agama (akhlak kehidupan) dan menikahkan jika sudah tiba waktunya.

Adapun jika orang tua sudah meninggal, maka kewajiban anak kepada orang tua adalah (a) melaksanakan wasiatnya, (b) menjaga nama baiknya, (c) meneruskan cita-citanya, (d) meneruskan silaturahmi dengan handai tolannya, (e) memohonkan ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 
source : http://agussyafii.blogspot.com

Video Meteor Jatuh di Jakarta bukti Kebesaran Allah SWT

Friday, April 30, 2010
Video Meteor Jatuh di Jakarta. Untuk mempertebal iman kita kepada sang maha pencipta, sekiranya dibawah ini adalah sebuah Video Meteor Jatuh di Jakarta Peristiwa terjadi pada 11 Maret 2009 sekitar pukul 18.00 WIB. Bagi anda yang belum menyaksikan meteor jatuh di jakarta dibawah ini adalah videonya yang terekam.

Video Meteor Jatuh di Jakarta

Ibadah umrah

Saturday, October 10, 2009
Ibadah umrah merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan oleh umat muslim sedunia. Umrah berasal dari kata ‘amara yang artinya mendiami seutu tempat atau mengunjungi suatu suatu tempat. Menurut syariat Islam, umrah berarti mengunjungi Bait Allah untuk menjalankan Ibadah pada waktu yang ditentukan.

A. Perbedaan Umrah dan Haji

Ibadah haji dilakukan pada waktu yang sudah ditentukan, yakni bulan Syawwal, Zulkqaidah, dan sepuluh hari bulan Zulhijjah, sedangkan Umrah dapat dilaksanakan kapan saja.
Ibadah umrah tidak perlu melakukan wukuf di Arafah, sedangkan Pada ibadah haji, wukuf di Arafah merupakan hal yang wajib dilaksanakan.
Dalam ibadah haji, menyembelih binatang kurban adalah hal yang dilarang, sedangkan pada ibadah umrah hal tersebut dibolehkan.

B. Hukum Menjalankan Ibadah Umrah

Haji dan Umrah hukumnya wajib dilaksanakan bagi setiap Muslim yang mampu, hal itu sebagaimana firman Allah:
Allah telah mewajibkan ibadah haji ke Bait Allah atas orang-orang yang telah mampu dalam perjalanannya. (QS. Al-Imran: 97)

Ibadah Umrah Meliputi:

1. Ihram

Amalan Umrah yang pertama adalah Ihram. Ihram adalah niat memasuki manasik (upacara ibadah haji) haji dan umrah atau mengerjakan keduanya dengan menggunakan pakaian ihram, serta meninggalkan beberapa larangan yang biasanya dihalalkan.

2. Pakaian Ihram

Untuk pria

Bagi laki-laki terdiri atas 2 lembar kain yang tidak dijahit, yang satu lembar disarungkan untuk menutupi aurat antara pusat hingga lutut, yang satu lembar lagi diselendangkan untuk menutupi tubuh bagian atas. Kedua lembar kain disunatkan berwarna putih, dan tidak boleh berwarna merah atau kuning.

Untuk wanita

Mengenakan pakaian yang biasa, yakni pakaian yang menutupi aurat.

Tempat-tempat Ihram
  1. Zul Hulaifah
  2. Juhfah
  3. Yalamlam
  4. Qarnul Manjil
  5. Zatu Irqin
  6. Makkah
3. Tawaf

Tawaf berasal dari kata tafa, artinya mengelilingi atau mengitari. Adapun menurut istilah ialah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 keliling. Sebelum melaksanakan tawaf, jamah harus mandi dan berwudhu dahulu.

Macam-macam Tawaf
  1. Tawaf qudum, yaitu tawaf yang dilakukan ketika sampai di Makkah.
  2. Tawaf ifadah, tawaf yang dilakukan pada hari menyembelih kurban.
  3. Tawaf wada, inilah tawaf yang menjadi rukun haji.
  4. Tawaf sunnah, tawaf yang dilakukan setiap saat.
4. Sa’i

Sa’i artinnya berlari-lari kecil. Menurut istilah, sa’I ialah berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah di dekat kota Makkah.

Adapun praktik pelaksanaan ibdah sa’i adalah sebagi berikut:
  1. Dilakukan sesudah tawaf
  2. Berlari-lari kecil atau berjalan cepat dari bukit Safa menuju bukit Marwah
  3. Dikerjakan sebanyak tujuh kali putaran: dari Safa ke Marwah satu putaran, dan dari Marwah ke Safa satu putaran, lalu berakhir di puncak bukit Marwah.
  4. Sa’I hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mengerjakan haji atau umrah saja.

5. Tahallul

Setelah melontar Jumrah ‘Aqabah, jamaah kemudian bertahallul (keluar dari keadaan ihram), yakni dengan cara mencukur atau memotong rambut kepala paling sedikit tiga helai rambut. Laki-lai disunnahkan mencukur habis rambutnya, wanita mencukur ujung rambut sepanjang jari, dan untuk orang-orang yang berkepala botak dapat bertahallul secara simbolis saja.

Setelah melaksanakan tahallul, perkara yang sebelumnya dilarang sekarang dihalalkan kembali, kecuali menggauli istri sebelum melakukan tawaf ifadah.

Ibadah haji dan Tata Caranya

Thursday, October 8, 2009
Ibadah haji merupakan salah satu jenis ibadah yang dilaksanakan oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Haji sendiri berasa dari kata hajj, yang artinya mengunjungi sesuatu. Menurut istilah diartikan sebagai: mengunjungi Bait Allah untuk menjalankan ibadah (iqamatan lin nusuk) pada waktu yang sudah ditentukan.

Bait Allah adalah salah satu nama Ka’bah yang terkenal, dan nusuk adalah bentuk jamak dari kata nasikah, yang artinya binatang yang dikurbankan.

Dari akar kata ini digubah menjadi mansik, yang juga berarti ibadah, dan bentuk jamaknya manasik, yang juga berarti ibadah, dan bentuk jamaknya manasik, yang khusus digunakan dalam arti syarat rukun ibadah haji.

Segala peraturan yang berhubungan dengan ibadah haji itu dalam kitab hadits diuraikan dalam bab manasik.

A. Rukun Haji

Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan hajinya tidak syah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :

1. Ihram

Ihram, Yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk haji atau umrah di Miqat Makani. Amalan Umrah yang pertama adalah Ihram. Ihram adalah niat memasuki manasik (upacara ibadah haji) haji dan umrah atau mengerjakan keduanya dengan menggunakan pakaian ihram, serta meninggalkan beberapa larangan yang biasanya dihalalkan.

a. Pakaian Ihram

Untuk pria

Bagi laki-laki terdiri atas 2 lembar kain yang tidak dijahit, yang satu lembar disarungkan untuk menutupi aurat antara pusat hingga lutut, yang satu lembar lagi diselendangkan untuk menutupi tubuh bagian atas. Kedua lembar kain disunatkan berwarna putih, dan tidak boleh berwarna merah atau kuning.

Untuk wanita

Mengenakan pakaian yang biasa, yakni pakaian yang menutupi aurat.

Tempat-tempat Ihram
  • Zul Hulaifah
  • Juhfah
  • Yalamlam
  • Qarnul Manjil
  • Zatu Irqin
  • Makkah
2. Wukuf

Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, zikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah. Setelah shalat subuh tanggal 9 Zulhijjah, jemaah haji berangkat dari Mina ke Arafah sambil menyerukan Talbiyah, dan singgah dahulu di Namirah.

Para jemaah sampai di Padang Arafah tepat pada waktu Zuhur dan ashar dengan jama’ taq’dim dan qasar dengan satu kali azan dan dua ikamah. Selesai shalat, imam kemudian menyampaikan khutbah dari atas mimbar.

Selama wukuf di Arafah, para jemaah haji menghabiskan/mengisi waktunya untuk memahasucikan Allah dengan meneriakan talbiyah, berzikir dan berdoa sebagai berikut:

Labbaika Allahumma labbaik (a), labbaika la syarika laka labbaik (a). Innal hamda wannimata lak (a), wal mulka laka la syarika lak (a).

3. Tawaf Ifadah

Tawaf Ifadah, Yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah

4. Sa'i,

Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah. Adapun praktik pelaksanaan ibadah sa’i adalah sebagai berikut:
  • Dilakukan sesudah tawaf
  • Berlari-lari kecil atau berjalan cepat dari bukit Safa menuju bukit Marwah
  • Dikerjakan sebanyak tujuh kali putaran: dari Safa ke Marwah satu putaran, dan dari Marwah Sa’I hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang mengerjakan haji atau umrah saja.
5. Tahallul

Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa'i. Setelah melontar Jumrah ‘Aqabah, jamaah kemudian bertahallul (keluar dari keadaan ihram), yakni dengan cara mencukur atau memotong rambut kepala paling sedikit tiga helai rambut. Laki-laki disunnahkan mencukur habis rambutnya, wanita mencukur ujung rambut sepanjang jari, dan untuk orang-orang yang berkepala botak dapat bertahallul secara simbolis saja. Setelah melaksanakan tahallul, perkara yang sebelumnya dilarang sekarang dihalalkan kembali, kecuali menggauli istri sebelum melakukan tawaf ifadah.
6. Tertib

Tertib, yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.

B. Wajib Haji

Wajib Haji Adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah;
  1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram
  2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina). Di Mudzalifah para jemaah haji menunaikan shalat magrib dijamak dengan shalat isya dengan satu kali azan dan dua iqamah. Kemudian, mereka bermalam lagi
  3. Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah yaitu dengan cara melontarkan tujuh butir kerikil berturut-turut dengan mengangkat tangan pada setiap melempar kerikil sambil berucap, “Allahu Akbar. Allahummaj ‘alhu hajjan mabruran wa zanban magfura(n)”. Setiap kerikil harus mengenai ke dalam jumrah jurang besar tempat jumrah.
  4. Mabit di Mina pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah). Hukumnya adalah sunnah.
  5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
  6. Tawaf Wada', Yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.
  7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang waktu ihram

Shalat Qashar

Shalat Qashar adalah meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat. Seperti shalat dzuhur, ashar dan isya’. Sedangkan shalat magrib dan shalat subuh tidak bisa diqashar.

Semua shalat rawatin ditiadakan, kecuali shalat sunah dua rakaat sebelum dzuhur atau shalat tahajud dan witir.

Shalat Qashar merupakan keringanan yang diberikan Allah selain shalat jama, sebagaimana firman-Nya:

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu, (QS Annisa: 101)

“Dan itu merupakan shadaqah (pemberian) dari Alloh  yang disuruh oleh Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menerimanya.”(HR Muslim).

Adapun batas jarak orang dikatakan musafir terdapat perbedaan di kalangan para ulama. Bahkan Ibnu Munzir mengatakan ada dua puluh pendapat. Yang paling kuat adalah tidak ada batasan jarak, selama mereka dinamakan musafir menurut kebiasaan maka ia boleh menjama’ dan mengqashar shalatnya. Karena kalau ada ketentuan jarak yang pasti,

Seorang musafir baru boleh memulai melaksanakan shalat jama’ dan Qashar apabila ia telah keluar dari kampung atau kota tempat tinggalnya. Ibnu Munzir mengatakan, “Saya tidak mengetahui Nabi menjama’ dan mengqashar shalatnya dalam musafir kecuali setelah keluar dari Madinah”. Dan Anas menambahkan, Saya shalat Dhuhur bersama Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah empat rakaat dan di Dzulhulaifah dua rakaat,(HR Bukhari-Muslim).

Menurut Jumhur (mayoritas) ulama’ seorang musafir yang sudah menentukan lama musafirnya lebih dari empat hari maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari atau kurang maka ia boleh mengqasharnya. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ketika haji Wada’. Beliau tinggal selama 4 hari di Makkah dengan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Adapun seseorang yang belum menentukan berapa hari dia musafir, atau belum jelas kapan dia bisa kembali ke rumahnya maka dibolehkan menjama’ dan mengqashar shalatnya. Inilah yang dipegang oleh mayoritas ulama berdasarkan apa yang dilakukan oleh rasulullah.

“Ketika penaklukkan kota Mekkah beliau tinggal sampai sembilan belas hari atau ketika perang tabuk sampai dua puluh hari beliau mengqashar shalatnya” (HR Abu Daud).

Hal-hal yang Membolehkan Qashar
  • Jarak perjalanannya sekurang-kurangnya 2 hari perjalanan kaki atau 2 marhalah (138km)
  • Bepergian bukan untuk maksiat
  • Shalat yang boleh diqashar hanya shalat yang 4 rakaat saja dan bukan qadha
  • Niat mengqashar paad waktu takbiartul ihram
  • Tidak makmum kepada orang yang bukan musafir

Demikianlah hal-hal yang berkaitan dengan shalat qashar.

Tentang Penulis: AsianBrain.com Content Team. Asian Brain adalah pusat pendidikan Internet Marketing PERTAMA & TERBAIK di Indonesia. Didirikan oleh Anne Ahira yang kini menjadi ICON Internet Marketing Indonesia. Kunjungi situsnya: www.AsianBrain.com

Berwudhu

Sunday, September 27, 2009
Berwudhu adalah tindakan yang harus dilakukan seorang Muslim sebelum melaksanakan shalat, karena wudhu sendiri merupakan salah satu syarat sah shalat.

Pengertian wudhu sendiri menurut syara’ adalah, membersihkan anggota wudhu untuk menghilangkan hadats kecil.


 A. Fardhu Wudhu

Fardhunya wudhu ada enam perkara, yaitu:

1. Niat:

Nawaitul wudhuu’a liraf’il-hadatsil-ashghari fardhal lillaahi ta’aalaa

Artinya: "Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah".

2. Membasuh seluruh muka (mulai dari tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri)
3. Membasuh kedua tangan sampai siku-siku
4. Mengusap sebagian rambut kepala
5. Membasuh kedua belah kaki sampai mata kaki
6. Tertib (berturut-turut), artinya mendahulukan mana yang harus didahulukan, dan mengakhirkan mana yang harus diakhirkan.

B. Syarat-syarat Wudhu

Syarat-syarat wudhu ialah:
  1. Islam
  2. Tamyiz, yakni dapat membedakan baik buruknya sesuatu pekerjaan
  3. Tidak berhadats besar
  4. Dengan air suci, lagi mensucikan
  5. Tidak ada sesuatu yang menghalangi air, sampai ke anggota wudhu, misalnya getah, cat dan sebagainya
  6. Mengetahui mana yang wajib (fardhu) dan mana yang sunnah
C. Sunnah-sunnah Wudhu

   1. Membaca basmallah pada permulaan wudhu
   2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan
   3. Berkumur-kumur
   4. Membasuh lubang hidung sebelum berniat
   5. Menyhapu seluruh kepala dengan air
   6. Mendahulukan naggota kanan daripada kiri
   7. Menyapu kedua telinga luar dan dalam
   8. Menigakalikan membasuh
   9. Menyela-nyela jari-jari tangan dan kaki
  10. Membaca doa sesudah wudhu

D. Yang Membatalkan Wudhu

  1. Keluar sesuatu dari qubul dan dubur, misalnya buang air kecil maupun besar, atau keluar angin dan sebagainya
  2. Hilang akal sebab gila, pingsan, mabuk dan tidur nyenyak
  3. Tersentuh kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya dengan tidak memakai tutup, (muhrim artinya keluarga yang tidak boleh dinikah)
  4. Tersentuh kemaluan (qubul atau dubur) dengan tapak tangan atau jari-jarinya yang tidak memakai tutup (walaupun kemaluannya sendiri)
E. Cara Berwudhu
  • Membaca Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, sambil mencuci kedua belah tangan sampai pergelangan tangan dengan bersih
  • Selesai membersihkan tangan terus berkumur-kumur tiga kali, sambil membersihkan gigi
  • Selesai berkumur lalu mencuci lubang hidung tiga kali
  • Setelah itu, mencuci muka tiga kali, mulai dari tempat tumbuhnya rambut kepala hingga bawah dagu, dan dari telinga kanan ke telinga kiri, sambil niat wudhu sebagai berikut:
Nawaitul wudhuu’a liraf’il-hadatsil-ashghari fardhal lillaahi ta’aalaa

Artinya: "Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah."
  • Lalu membasuh muka, serta mencucui kedua belah tangan hingga siku tiga kali
  • Setelah itu lalu menyapu sebagian rambut kepala tiga kali
  • Diteruskan dengan menyapu sebagian rambut kepala, terus menyapu kedua belah tangan tiga kali.
  • Yang terakhir adalah mencuci kedua belah kaki tiga kali sampai mata kaki
F. Doa Setelah Berwudhu

Setelah berwudhu, disunahkan membaca doa sambil menghadap ke kiblat, dan mengangkat kedua belah tangan. Doanya adalah:

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allaahummaj’alnii minat-tawwaabiin, waj’alnii minal mutathahiriin, waj’alnii min ‘ibaadikash-shaalihiin

Artinya:“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah yang Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hambamu yang saleh.”